Pencegahan Stunting dan TB melalui program penguatan Kesehatan Ibu, bayi, anak, keluarga dan komunitas oleh PKL terpadu Poltekkes Kemenkes Makassar
Stunting dan Tuberkulosis (TBC) pada anak memiliki hubungan timbal balik yang saling memperburuk. Kekurangan gizi kronis pada stunting melemahkan kekebalan tubuh sehingga anak mudah tertular TBC, sebaliknya infeksi TBC menyebabkan hilangnya nafsu makan dan gangguan penyerapan gizi yang memicu atau memperparah stunting.
Hubungan Timbal Balik Stunting dan TBC
- Stunting memicu TBC: Anak pendek atau stunting memiliki daya tahan tubuh lemah, sehingga risiko terinfeksi kuman TBC meningkat hingga 3 sampai 9 kali lipat jika ada kontak dengan penderita dewasa.
- TBC memicu stunting: Infeksi TBC kronis menurunkan nafsu makan anak, merusak metabolisme, dan membuat berat badan serta tinggi badan anak berhenti naik. [1, 2, 3, 4]
- Batuk lama lebih dari 2 minggu.
- Demam lama atau berulang tanpa sebab jelas.
- Berat badan turun, tidak naik (sulit naik), atau grafik berat badan mendatar dalam 2 bulan berturut-turut.
- Anak tampak lesu, lemah, dan tidak aktif seperti biasa.
Cara Memutus Rantai Stunting dan TBC
- Pemeriksaan rutin: Pantau tumbuh kembang anak secara berkala di Posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat.
- Skrining kontak erat: Jika ada anggota keluarga serumah yang terkena TBC, segera bawa anak untuk pemeriksaan skrining.
- Perbaikan gizi: Berikan makanan bergizi seimbang dengan protein hewani yang cukup.
- Pengobatan tuntas: Jika anak positif TBC atau mengalami stunting dengan infeksi, jalani pengobatan obat anti-tuberkulosis (OAT) dan terapi gizi secara disiplin hingga tuntas.